Artikel List

Item
Mengatasi Anak Yang Suka Berteriak

www.promomainan.com -  Bila Anda mempunya anak yang bila berbicara senang berteriak - teriak , maka ada beberapa faktor penyebabnya :

A. Mencoba Mendapatkan Perhatian

Anak kecil memang senang mencoba menarik perhatian di lingkungannya terutama terhadap orang tuanya. Mereka melakukan berbagai cara salah satunya dengan berteriak. Bila kita meresponnya terlalu berlebihan ( marah ) anak tentunya akan mengulangi hal serupa .

B Memiliki Sifat Ego

Anak kecil memiliki sifat ego yang cukup tinggi karena mereka tidak tau keadaan sekitarnya apakah terganggu dengan cara berteriak mereka. Apa yang mereka inginkan akan mereka lakukan.

C Kemampuan Berbicara

Ketika anak kecil mulai bisa berbicara secara utuh maka mereka cenderung mengekspresikan dengan cara berbicara berteriak

D. Meniru Lingkungannya

Anak kecil suka meniru lingkungan sekitarnya. Bila orang tuanya suka berbicara keras ( berisik) maka anak pun biasanya akan ikut seperti itu. Dan juga bila teman - teman seumurnya berteriak - teriak maka yang lain akan ikut serta.

E. Belum Bisa Melampiaskan Emosi Secara Positif

Anak kecil  belum sepenuhnya dapat melampiaskan emosi secara positif. Ketika menghadapi ketidaknyamanan, ia memilih berteriak-teriak demi melampiaskan emosinya. Keadaan ini bisa makin parah jika orang dewasa yang ada di sekitar anak juga kerap berperilaku emosional.

Solusi

Tentu tidak ada masalah yang tidak punya jalan keluar. Untuk menghadapi anak yang masih suka bicara teriak-teriak, beberapa langkah ini dapat membantu:

A . Beri pengertian.

Tekankan pada anak bahwa tanpa berteriak pun dia akan mendapat perhatian dari orangtua dan orang di sekitarnya. “Sayang, enggak usah teriak-teriak gitu. Mama dengar kok.” Hindari kata-kata panjang lebar dan berkesan menasihati. Pengertian juga bisa diberikan lewat dongeng, bermain atau kegiatan lain yang menyenangkan.

B.  Introspeksi.

Apakah selama ini ada anggota keluarga dewasa yang berkomunikasi dengan nada berteriak? Ajaklah yang bersangkutan menghilangkan kebiasaan bicara dengan nada tinggi kalau tak mau gaya ini ditiru anak.

C. Jadi teladan.

Pada intinya, bila ingin men-gubah cara bicara anak menjadi lebih manis, lemah lembut, dan lebih sopan, jadilah teladan baginya. Tak perlu membalas teriakannya dengan bicara keras pula. Mulailah dari diri kita untuk menurunkan volume suara. Tatap mata anak dan bicaralah dengan halus (sedikit berbisik) namun tegas. Dengan cara ini biasanya anak akan terdiam dan mulai mendengarkan suara kita, karena penasaran, “Apa nih yang sedang diomongin Mama, kok bisik-bisik?" Biasakan berkomunikasi dengan siapa pun termasuk dengan anak dalam volume suara sedang.

D. Kecilkan volume teve, CD player, radio, dan lainnya.

Ini yang terkadang tidak di-sadari, anak berteriak demi menyaingi suara lingkungan yang gaduh. Perhatikan perangkat audio visual di rumah, apakah kerap disetel dengan volume tinggi? Kalau ya, segera ciptakan suasana rumah yang tenang agar anak pun tidak perlu berteriak jika ingin bicara.

E.  Hindari keinginan balas berteriak.

Mendengar si prasekolah berteriak bisa mendorong kita untuk balas berteriak, bukan? Reaksi ini wajar tetapi kurang bijaksana. Sekali lagi, berteriak untuk menghentikan teriakan anak, justru memicu kompetisi dan mengilhaminya untuk lebih meningkatkan volume teriakan. Anak juga membuat tindakan itu sebagai alasan, "Ayah Ibu juga teriak, masa aku enggak boleh!"

F.  Ajari anak mengatur volume bicaranya.

Terkadang anak tidak dapat mengatur volume suaranya karena tidak ada masukan dari orang-orang di sekitarnya. Beri ia gambaran seperti apa volume suara yang tidak mengganggu lingkungan itu. Suara yang terdengar di dalam ruangan tentu berbeda dari yang di luar ruangan. Bantu anak menyadari hal itu dan mulai belajar “menyetel”volume suaranya sesuai tempat keberadaan.

G.  Abaikan.

Kadang-kadang sikap mengabaikan diperlukan demi mengatasi anak yang mencari perhatian dengan berperilaku buruk. Jika sudah diberi tahu bahwa suara-nya amat menganggu, namun ia tetap bicara keras-keras, coba abaikan saja dia. Baru, sesudah ia mau menurunkan volume suaranya, kita tersenyum padanya dan memenuhi permintaannya. Ini akan mendorong anak untuk mengubah kebiasaan buruknya itu karena sadar ia hanya akan mendapat perhatiaan kala ia bicara dengan sopan.

H.  Ajarkan bagaimana menyelesaikan masalah secara positif.

Di kala emosi tengah memuncak, terkadang kita memarahi anak dengan berteriak-teriak. Sungguh sangat ideal, bila kita dapat mengontrol emosi dan bisa menyelesaikan segala permasalahan dengan tenang, sehingga anak belajar dengan mencontoh cara menyelesaikan masalah tanpa sikap emosional.

I  Permainan mengontrol suara.

Ada beberapa permainan yang dapat membantu anak mengontrol suaranya, se-perti permainan saling bisik. Berikan satu kata yang harus disampaikan kepada temannya dengan cara berbisik. Begitulah, berbagai cara perlu kita coba untuk mengo-reksi perilaku anak yang suka berteriak-teriak ini, karena setiap anak adalah unik. Satu hal yang pasti, saat anak sudah menunjukkan perilaku yang kita inginkan, beri ia respons positif.

J. Megajak Anak Bermain

Mengajak anak bermain juga bisa dilakukan oleh orang tua untuk mengendalikan kebiasaan anak berteriak. Karena dalam bermain kebiasaan anak berteriak bisa dialihkan. Misal dengan mengajak anak bermain alat musik khusus anak - anak misal Drum , Piano, dll.